Awalnya sekedar iseng nyari klip di youtube, eh ternyata ketemu sama film ini, film yang diputar oleh RCTI sebagai sineas ini mengisahkan kebingungan Deva (Ine Wijayanti); santriwati yang setiap paginya selalu mendapatkan coklat dari para secret admirers-nya. Mereka meletakkannya di dalam kolong meja tempat dia duduk.
Hari itu Deva meminta Ica dan Anis untuk menebak berapa jumlah coklat yang ada di kolong mejanya. Mereka masing-masing menebak tiga dan dua, yang ternyata jawabannya adalah tujuh. Sejak saat itu selama satu minggu Deva ditembak cinta secara beruntun oleh para screet admirer. Ia tambah pusing karena setiap mereka yang menyatakan cintanya, tidak membutuhkan jawaban. Ada yang berfikir takut untuk sakit hati, ataupun yang penting sudah berkata jujur dan berani mengungkapkan.
Disini kita akan disuguhi bagaimana perjuangan mereka menembus tembok tebal disiplin untuk mengungkapkan cintanya. Nekat, berani, kolot, dan kocak dari mereka menegaskan nuansa cinta ala ABG di pesantren.
Film garapan Sinema Art yang mengambil latar pondok pesantren ini mungkin akan terkesan biasa saja, tapi tidak untuk mereka yang pernah menghirup udara pesantren.
Bagi mereka, ini seperti membongkar gudang memori yang sudah lama terkunci, ingatan bagaimana suasana pesantren dan pengalaman sulitnya melafadzkan bahasa arab dengan kemampuan pas-pasan untuk terhindar dari sangsi.
Percakapan yang digunakan adalah Bahasa arab khas santri, baik pelafadzan ataupun tartib (gramatikal). Namun yang sangat terasa adalah bagaimana setiap pemeran melafadzkannya dengan logat Indonesia, mengentalkan suasana santri belajar muhadatsah bahasa Arab. Disini sutradara dapat memunculkan tokoh Deva yang terlihat pintar; terlihat dari bahasa yang ia gunakan.
Namun ada sesuatu yang saya rasa kurang dalam penggunaan bahasa; bukan pada pelafadzan atau tartib, namun adalah bahasa yang digunakan oleh dewan pengajar. Terasa tidak banyak berbeda dengan santrinya. Saya kira akan terasa lebih indah jika para pemeran pengajar tersebut, mempunyai kelebihan dalam nuthq bil ‘arabiyah.
Ini terlihat pada satu adegan ketika Si Ustadz mendapati Santriwatinya masuk ke tempat santri (studio musik). Juga ketika Si Ustadz yang memberikan ta’limat wa takhdzir (pemberitahuan dan peringatan)kepada mereka yang selalu membelikan coklat.
Dan juga dalam pemberian subtittle, yang sepertinya kurang tepat.
Ada bagian yang menurut saya terasa janggal, yaitu ketika Pak Ustadz yang masuk untuk mengajar kelas. Disitu tidak ada take part shoot atau tidak ada jeda waktu yang mengilustrasikan nuansa belajar, dan tiba-tiba saja waktu belajar sudah habis, yang akhirnya si Ustadz harus undur diri. Baru saja dia mengawali pelajaran, tiba-tiba saja waktu belajar sudah habis.
Sesuatu yang menjadi nilai plus adalah penggambaran suasana pesantren yang sangat jelas. Dengan peraturan serta sangsi disiplin yang dihadirkan, semakin mengentalkan nuansa kehidupan santri. Namun saya kurang faham dengan diperbolehkannya penggunaan HP (mobile) untuk santri. Ini sesuatu yang saya kira jarang ada di pesantren,meskipun modern. Dalam film ini penggunaan telpon seluler sepertinya legal.
Eniwei, buat kalian yang pernah di pesantren, tontonan ini akan membuat kamu harus memutar otak mengingat masa lalu, atau paling tidak akan membuat kamu senyum sendiri. Salut buat para pemeran yang saya rasa berhasil menampilkan peran kesantrian. Ingin tahu bagaimana mereka berperan? Hukuman apa buat mereka yang pacaran di pesantren? tonton aja ndiri yak!